Halo Bibliophers! Perpustakaan dan buku menjadi dua hal yang tak dapat dipisahkan. Namun, di balik dua hal tersebut terdapat sosok penting yang juga tak terpisahkan. Yeps, pustakawan! Siapa di antara kalian yang belum mengenal pustakawan? Apa saja tips menjadi pustakawan kekinian ala minpust dengan konsep S.I.A.P.? So, mari kita simak penjelasan berikut ini. Check it out!
From Books to Byte: Tips Menjadi Pustakawan Masa Kini "S.I.A.P.”
Pustakawan “jadul” identik dengan tumpukan buku berdebu, ruangan yang sunyi, dan image pustakawan yang menyeramkan. Bahkan tak jarang pustakawan dianggap sebelah mata. Tak hanya itu, perpustakaan pun tak luput dari anggapan orang-orang sebagai tempat "berhantu".
Namun, seiring perkembangan IPTEK dan hadirnya IoT, kini wajah baru perpustakaan dan pustakawan semakin berkembang dan bertumbuh lebih “kekinian”. Pustakawan “kekinian” tak hanya bergelut dengan koleksi fisik saja, namun juga harus terbiasa dengan digitalisasi dan kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence).
Nah, Bibliophers. Berikut tips menjadi pustakawan “kekinian” ala minpust , yaitu S.I.A.P. (Smart, Innovative, Adaptive, Professional).
1. Smart (Cerdas)
Pustakawan harus selalu “haus akan belajar”. Sebagai pembelajar seumur hidup atau pembelajar sepanjang hayat, pustakawan harus cerdas dalam berbagai hal. Tak hanya soal kecerdasan intelektual, namun juga mencakup berbagai aspek kemampuan yang membuat pustakawan mampu bekerja secara efektif, efisien, dan relevan di era informasi digital saat ini, di antaranya :
- Kecerdasan Informasi ( Literasi Informasi ): a) mampu menilai kualitas, relevansi, dan keabsahan sumber informasi, b) mengajarkan keterampilan literasi informasi kepada pemustaka, c) mengelola dan memanfaatkan sumber daya elektronik dan dasar data ilmiah, dan d) menangani plagiarisme dan etika informasi.
- Kecerdasan Digital (ICT, IoT, AI): a) mengelola sistem perpustakaan digital (e-library, institutional repository), b) menggunakan perangkat lunak manajemen referensi (mendeley, zotero, endnote), c) menguasai metadata, otomasi perpustakaan, dan digital preservation, serta d) mengembangkan layanan perpustakaan berbasis teknologi seperti penggunaan chatbot atau layanan referensi daring, dsb.
- Kecerdasan Interpersonal dan Emosional: a) berkomunikasi efektif dengan pemustaka, b) menyediakan layanan pengguna yang responsif dan humanis, c) berkolaborasi lintas unit dalam kegiatan ilmiah dan literasi, dan d) menangani konflik (problem solving) dan memahami kebutuhan pemustaka yang beragam.
2. Innovative (Inovatif)
Pustakawan masa kini harus berpikir secara kreatif dan solutif. Pustakawan harus mampu menciptakan, mengembangkan, dan menerapkan ide-ide baru dalam layanan, program, dan pengelolaan perpustakaan. Pustakawan inovatif tak hanya mengikuti perkembangan, tapi aktif juga menciptakan perubahan yang berdampak positif, di antaranya :
- Inovasi Layanan Digital: a) membangun chatbot layanan referensi 24/7, b) mengembangkan repository institusi berbasis open access, c) layanan peminjaman buku berbasis aplikasi mobile, dan d) ruang diskusi digital.
- Inovasi Literasi Informasi: a) kelas literasi informasi berbasis blanded learning (offline dan online), b) membuat video tips and tricks singkat di YouTube atau media sosial, c) mengintegrasikan literasi AI dan etika informasi, dan d) selalu up to date dan membuat program yang “kekinian” & berdampak positif.
- Inovasi Kolaboratif: a) berkolaborasi dengan para peneliti untuk mendukung data management plan for research, b) mengadakan coaching clinic penulisan ilmiah dan publikasi, c) menyediakan layanan pendampingan sitasi dan pengelolaan referensi ilmiah, dan d) melakukan penelitian kolaboratif.
3. Adaptive (Adaptif)
Seorang pustakawan harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri secara cepat dan efektif terhadap perubahan teknologi, kebutuhan pengguna, kebijakan institusi, budaya organisasi, dinamika dunia pendidikan dan informasi, dan sebagainya. Ciri-ciri pustakawan adaptif, di antaranya:
- Responsif Terhadap Teknologi Baru: selalu ingin tahu, terbuka, dan cepat belajar menggunakan sistem, aplikasi, dan alat digital baru.
- Fleksibel Dalam Bekerja: siap menyesuaikan peran, strategi layanan, dan pola kerja sesuai kondisi (misalnya layanan daring saat pandemi).
- Proaktif Terhadap Perubahan: tidak menunggu instruksi, mencari cara dan/atau tips and tricks untuk meningkatkan layanan, serta memperbaiki proses kerja.
- Terbuka Terhadap Umpan Balik: mampu menerima masukan dan menjadikan masukan tersebut sebagai bahan untuk perbaikan diri dan meningkatkan kualitas dalam melayani pemustaka.
- Kolaboratif dan Komunikatif: dapat bekerja lintas divisi atau disiplin ilmu, serta membangun relasi profesional yang sehat dan produktif.
4. Professional (Profesional)
Pustakawan harus berperan sebagai individu yang memiliki kompetensi, etika, dan tanggung jawab dalam mengelola, mengembangkan, serta menyediakan layanan informasi secara efektif, efisien, dan sesuai standar profesi pustakawan. Beberapa hal yang harus dikuasai oleh pustakawan profesional, di antaranya:
- Kompetensi Teknis dan Digital: pustakawan harus menguasai keterampilan dan pengetahuan teknis yang relevan sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya pengelolaan koleksi fisik dan digital, operasional sistem perpustakaan, manajemen repository, e-journal, basis data akademik, literasi informasi, dsb.
- Etika Profesi dan Integritas: pustakawan profesional harus menjunjung tinggi nilai etika profesi dan integritas akademik. Misalnya menjaga privasi pemustaka, menolak plagiarisme dan mendukung etika akademik, bersikap adil, inklusif, dan tidak diskriminatif dalam memberikan layanan kepada pemustaka, serta aktif dalam organisasi profesi.
- Komunikasi Efektif dan Kolaboratif: pustakawan harus mampu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal. Misalnya dalam penulisan profesional, pelatihan public speaking, penelitian kolaboratif, membangun jejaring pustakawan, pengabdian masyarakat, proaktif dalam mempromosikan perpustakaan dan membangun citra diri sebagai seorang pustakawan.
Nah, Bibliophers. Tips di atas tentunya tidak bisa diperoleh secara instant, tetapi dapat dilatih dengan banyak belajar, berdiskusi, berkolaborasi, dan selalu menerapkan Asta Etika Pustakawan sesuai arahan dari Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai organisasi profesi bagi para pustakawan.
So, semoga artikel minpust ini bermanfaat dan dapat diaplikasikan agar bisa menjadi pustakawan “kekinian”. Tak lupa, minpust juga mau mengucapkan Selamat HUT Ikatan Pustakwan Indonesia (IPI) dan Hari Pustakawan Nasional 07 Juli Tahun 2025. Jaya selalu dokter ilmu pengetahuan! Salam hangat untuk seluruh pustakawan di Indonesia.
Salam literasi!