Luka di bulan Agustus
  • 30 Agustus 2025
  • Alfa Robi
  • artikel
  • 26 Views

Agustus seharusnya menjadi bulan refleksi tentang kemerdekaan, persatuan, dan harapan. Namun pada Agustus 2025 ini, narasi itu retak di beberapa titik. Kerusuhan yang terjadi baru-baru ini bukan hanya peristiwa spontan, melainkan akumulasi dari banyak hal yang lama terpendam. Yakni ketimpangan, kekecewaan, dan rasa tidak didengar.

Jika kita melihat kerusuhan itu hanya sebagai “gangguan keamanan”, maka kita telah kehilangan inti persoalan dari permasalahan tersebut. Kerusuhan merupakan bahasa paling keras dari mereka yang merasa tidak punya saluran lain untuk bicara, atau bisa jadi sebuah puncak dari kekecewaan yang amat dalam.

Setiap kerusuhan selalu memiliki pemicu. Bisa berupa kebijakan yang dianggap tidak adil, isu ekonomi yang menekan, atau konflik sosial yang dibiarkan membusuk. Namun pemicu hanyalah percikan kecil. Bahan bakarnya adalah emosi kolektif yang menumpuk: marah, kecewa, dan putus asa. Di sinilah kepekaan sosial menjadi penting. Banyak dari kita cenderung melihat kerusuhan dari jarak aman, mengutuk, menyalahkan, atau sekadar menjadi penonton. Padahal di balik tindakan anarkis itu, ada manusia-manusia yang sudah lama merasa diabaikan. 

Pernyataan ini tidak untuk membenarkan kekerasan, tetapi mengajak untuk memahami akar masalahnya.

Kerusuhan sering kali berakar dari ketimpangan yang tidak kasat mata. Bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan keadilan. Ketika sebagian kelompok merasa terus tertinggal, rasa frustrasi itu tidak hilang begitu saja. Ia menumpuk, lalu mencari jalan keluar, dan kadang dalam bentuk yang destruktif.

Kepekaan sosial menuntut kita untuk tidak hanya menghakimi, tetapi juga memahami. Memahami bukan berarti setuju, melainkan mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Karena sering kali, solusi tidak lahir dari penilaian, tetapi dari pemahaman.

Dalam situasi seperti ini, bersikap netral sering dianggap aman. Namun netralitas yang pasif bisa berubah menjadi ketidakpedulian. Kepekaan sosial mengajak kita untuk lebih dari hanya berdiam diri. Kita bisa mulai dari hal kecil seperti; Tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, Mencoba mendengar berbagai sudut pandang, Mendorong dialog daripada memperkeruh konflik.

Karena konflik sosial tidak hanya diselesaikan oleh aparat atau kebijakan, tetapi juga oleh kesadaran kolektif masyarakatnya. Kerusuhan selalu meninggalkan luka fisik, sosial, dan psikologis. Namun di balik luka itu, selalu ada peluang untuk memperbaiki. Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah?”, tetapi “apa yang harus diperbaiki?”.

Agustus 2025 seharusnya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan bersama. Dan kepekaan sosial adalah langkah awal untuk memastikan bahwa suara-suara yang selama ini terpinggirkan tidak lagi harus berbicara melalui kerusuhan.

Related Content :